Saturday, May 12, 2012

Kenapa tangisan itu melegakan?

Menangis sememangnya mempunyai banyak kebaikan, bukan sahaja dalam agama, malah dari aspek kesihatan. Ini ada satu artikel :

The Health Benefits of Tears
Learn how tears can benefit you and improve your health.


For over twenty years as physician, I’ve witnessed, time and again, the healing power of tears. Tears are your body’s release valve for stress, sadness, grief, anxiety, and frustration. Also, you can have tears of joy, say when a child is born or tears of relief when a difficulty has passed. In my own life, I amgrateful when I can cry.

It feels cleansing, a way to purge pent up emotions so they don’t lodge in my body as stress symptoms such as fatigue or pain. To stay healthy and release stress, I encourage my patients to cry. For both men and women, tears are a sign of courage, strength, and authenticity.

In my new book I discuss the numerous health benefits of tears. Like the ocean, tears are salt water. Protectively they lubricate your eyes, remove irritants, reduce stress hormones, and they contain antibodies that fight pathogenic microbes. Our bodies produce three kinds of tears: reflex, continuous, and emotional.  Each kind has different healing roles. 



For instance, reflex tears allow your eyes to clear out noxious particles when they’re irritated by smoke or exhaust. The second kind, continuous tears, are produced regularly to keep our eyes lubricated--these contain a chemical called “lysozyme” which functions as an anti-bacterial and protects our eyes from infection. Tears also travel to the nose through the tear duct to keep the nose moist and bacteria free. Typically, after crying, our breathing, and heart rate decrease, and we enter into a calmer biological and emotional state.



Emotional tears have special health benefits. Biochemist and “tear expert” Dr. William Frey at the Ramsey Medical Center in Minneapolis discovered that reflex tears are 98% water, whereas emotional tears also contain stress hormones which get excreted from the body through crying. After studying the composition of tears, Dr. Frey found that emotional tears shed these hormones and other toxins which accumulate during stress. Additional studies also suggest that crying stimulates the production of endorphins, our body’s natural pain killer and “feel-good” hormones.” 


Interestingly, humans are the only creatures known to shed emotional tears, though it’s possible that that elephants and gorillas do too. Other mammals and also salt-water crocodiles produce reflex tears which are protective and lubricating.



Crying makes us feel better, even when a problem persists. In addition to physical detoxification, emotional tears heal the heart. You don’t want to hold tears back. Patients sometimes say, “Please excuse me for crying. I was trying hard not to. It makes me feel weak.”


My heart goes out to them when I hear this. I know where that sentiment comes from: parents who were uncomfortable around tears, a society that tells us we’re weak for crying--in particular that “powerful men don’t cry.” I reject these notions. The new enlightened paradigm of what constitutes a powerful man and woman is someone who has the strength and self awareness to cry. These are the people who impress me, not those who put up some macho front of faux-bravado.



Try to let go of outmoded, untrue, conceptions about crying. It is good to cry. It is healthy to cry. This helps to emotionally clear sadness and stress. Crying is also essential to resolve grief, when waves of tears periodically come over us after we experience a loss. 

Tears help us process the loss so we can keep living with open hearts.


Otherwise, we are a set up for depression if we suppress these potent feelings. When a friend apologized for curling up in the fetal position on my floor, weeping, depressed over a failing romance, I told her, “Your tears blessed my floor. There is nothing to apologize for.”



I’ve been this enthusiastic about crying for years. In fact, during my psychiatric residency at UCLA when supervisors and I watched videos of me with patients, they’d point out that I’d smile when a patient cried. “That’s inappropriate,” they’d say.



I disagreed then; still do. I wasn’t smiling because my patients were depressed or grieving. I was smiling because they were courageously healing depression or other difficult emotions with tears. I was happy for their breakthrough. In my life, too, I love to cry. I cry whenever I can. Wish I could more. Thank God our bodies have this capacity. I hope you too can appreciate the experience. Let your tears flow to purify stress and negativity.



Kesimpulannya :


Tangisan bermanfaat untuk:

1. lubricate your eyesremove irritantsreduce stress hormones : melincirkan mata, menghilangkan kegatalan, mengurangkan hormon stres

2. contains antibodies that fight pathogenic microbes : mengandungi antibodi yang dapat melawan pathogenic macrobe (sejenis backteria)

3. anti-bacterial and protects our eyes from infection. : anti-bakteria dan melindungi mata daripada jangkitan

4. emotional tears shed stress hormones and other toxins which accumulate during stress : tangisan emosional / melibatkan perasaan membuang hormon stres dan toksin lain yang terjadi ketika stres

5. stimulates the production of endorphins : merangsang pengeluaran endorfin (pembunuh kesakitan semualajadi dan menghasilkan perasaan gembira)


6.  heal the heart : menyembuhkan hati


7. clear sadness and stress : membuang perasaan sedih dan stres


8. resolve grief : menyelesaikan kedukaan / kesedihan



Friday, May 11, 2012

Teguh Dengan Pendirian.

Lagu ini benar-benar mempunyai maksud mendalam. Cuba hayati dan kita dapat rasakan, yang kita perlu tetap teguh dengan jalan ini, tanpa perlu menghiraukan apa kata orang .







Daerah Ini
Album :
Munsyid : Algebra
http://liriknasyid.com

Mereka kata kau akan sayu di daerah itu
Jawab aku selalu bersama Tuhanku
Kupasrah padaNya sehening tiupan salju

KernaNya aku rasa jitu dan mampu melebihi manusia beribu

Daerah ini daerah tenang sekalipun ada yang kata usang
Daerah ini daerah damai sekalipun sukar untuk sampai
Daerah ini daerah merdeka sekalipun ada yang memeranginya


Biarkan saja aku di daerah ini..
Kata mereka daerah mu itu jauh
Jawab ku pada Tuhan aku bersauh kukuh
Yang jauh itu jiwa yang mungkir
Padaku daerah ini amat hampir


Kata mereka daerah kau itu sepi
Jawabku aku tak pernah sunyi dengan alunan murni
Yang sepi itu jiwa yang inginkan pujian
Padaku cukuplah dengan irama keredhaan Tuhan


Daerahku ini daerah berpendirian
Berpaksikan firman Tuhan
Bukan hukum insan bukan gema sorakan bukan riuh tepukan
Daerah ini tak pernah peduli

Apa kata abdi atau pembesar negeri

Daerah ini berpasakkan Nabi
Bagindalah mimpi Bagindalah realiti..
Biarkan saja aku di daerah ini
Sekalipun ada yang tak gemari


Biarkan saja aku di daerah ini
Sendiri membawa diri & sanubari
Biarkan saja aku di daerah ini
Sekalipun ada yang tak gemari


Biarkan saja aku di daerah ini
Kerna aku mengerti ia amat suci & abadi
Di daerah ini, biarlah aku..






afifahmsy6736(at)gmail.com

Sunday, April 29, 2012

Rencana, Takdir dan Cinta



۞ ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﺍﻠﺮﺤﻤٰﻦ ﺍﻠﺮﺤﯿﻢ ۞

Andai kamu merasakan bahwa panas terik matahari itu membahang dan kamu sudah tidak tertahan oleh kepanasannya, maka ketahuilah bahwa kedinginan salju itu akan bisa membunuh kerana sifat dinginnya sampai membeku.

Andai kamu merasakan bahwa tanah yang kamu pijak waktu ini kering sehingga kemarau, sehingga kamu tidak bisa dapat bertahan dengannya, maka ketahuilah bahwa hujan bisa menyebabkan terjadinya banjir lalu musnah seperti tsunami melanda.

Andai kamu merasakan bahwa kabus itu kabur, ketahuilah bahwa dia pasti akan menjadi terang sesudah datangnya mentari mencipta tujuh warna pelangi untuk menghiasi cakerawala langit yang indah

Andai kamu merasakan takdir itu kamu yang memilihnya, ketahuilah bahwa takdir itulah yang memilihmu.

Lalu bagaimanakah konsep takdir yang harus bisa kita terima?

Hanya Allah yang memiliki dan mencipta takdir kita. Hanya Allah yang paling terhebat dalam merencana. Apa yang berlaku dalam hidup kita sejak azali lagi merupakan rencana yang sudah direka awal oleh-Nya.

Kita juga punya rencana. Tetapi rencana yang kita cipta bukan untuk diri kita semata. Tetapi untuk menyesuaikan dengan rencana Allah yang sudah lama tercipta buat kita.

Lalu, sekalian takdir sudah memilih diri kita, begitu banyak perbezaannya. Kadang, kita harus menerima apa yang tidak pernah kita minta. Kerana, setiap kejadian sudah terencana.

Dan, rencana kita adalah selayaknya untuk disesuaikan dengan rencana Allah. Bukan hanya untuk diri sendiri, bukan hanya amal di mata manusia. Tetapi, untuk apa lagikah selain untuk redha dari-Nya?

Andai kehidupan ini sudah terencana sepenuhnya lalu dicatat di Lauh Mahfuz, mengapa perlu kita ada rencana sendiri? Mengapa perlu kita disuruh usaha dan bekerja? Bukankah semua sudahpun tertulis dalam rencana Allah? Cuma, kita tidak tahu apa sahaja rencana yang Allah telah lakarkan.

Kamu hanya perlu bayangkan, kalau kesemua takdir kita telah diketahui sejak azali, apalah gunanya hidup ini lagi? Sudah tentu hidup ini tidak enak kerana tak punya 'surprise' yang mengejutkan. Kalau berita gembira datang menerpa, kita tidaklah segembira mana. Kalau berita sedih datang membondong, kita juga sudah pasrah. Kerana kita sudah tahu takdir kita dari awal lagi. Sungguh jelikkan kalau hidup diciptakan begitu? S
udah tentu kita tak mengenal erti usaha, erti cinta. Dan sudah tentulah kita takkan pernah kenal erti pengorbanan.

Begitu juga dengan cinta. Mata yang memandang menimbul rasa cinta. Telinga yang mendengar menimbul rasa cinta. Kebersamaan dengan kerap menimbul rasa cinta. Namun cinta pada Pencipta agak sukar dilaksanakan. Mengapa?

Kerana kita tidak menjadikan cinta itu sebagai kata kerja. Andai kamu mencintai seseorang, kamu bisa mengatakan "Saya tidak cinta dia", kerana cinta itu kata kerja. Andai kamu tidak mencintai seseorang, kamu juga bisa mengatakan, "Saya mencintai dia", kerana cinta itu kata kerja.

Cinta sang sahabat pada Allah dan Rasul-Nya langsung tidak diendah segala lelah, beban, dan derita. Mereka mengerjakannya kerana patuh, taat seadanya. Apa saja yang bakal diperintahkan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, mereka akan berkata"Kami dengar dan kami taat.." (Q 2:275) dan mereka tidak punya alasan untuk ingkar dan mengeluh

Umar Al-Khattab berkata kepada Rasulullah SAW: "Ya Rasulullah, sungguh aku mencintaimu sepertimana aku mencintai diriku sendiri."

Rasulullah tersenyum kemudiannya berkata; "Wahai Umar, aku seharusnya lebih kau cintai dari diri dan keluargamu."

Lantas Umar menjawab; "Ya Rasulullah, mulai hari ini engkau lebih kucintai dari semua yang ada di dunia ini." 

Nah, itulah erti cinta yang didefinisikan oleh sang sahabat. Kerana cinta yang seharusnya dituntut di dunia ini bukan 'perasaan cinta'. Tetapi 'kerja cinta'. Cinta itu sudah meraja di dalam hati. Tapak untuk sang cinta di dalam hati. Maka, tugas kita adalah untuk mengerjakan cinta dan menggerakkannya.




Ya, cinta itu benar-benar indah andai kau bisa mengerjakannya :)

7:16 pm, Isnin,
Kuala Lumpur.



Nota 1: Artikel ini telah di 'translate' ke dalam Bahasa Inggeris oleh Arif Abdullah. Saya sangat terharu kerana tulisan saya sudi diterjemah. Sangat-sangat menghargai. Terima kasih akhi. Hanya Allah dapat membalas jasa baik akhi. Sebarkanlah apa yang bermanfaat. Semoga Allah meredhai semuanya :)


Nota 2: Al-fatihah buat Arwah Syeikh Fathi Yakan atas pemergiannya semalam. Terlalu banyak dan besar pengorbanannya buat umat Islam sehingga hari ini. Ya syeikh, semoga Allah merahmatimu dan menempatkanmu di kalangan orang-orang yang soleh..





Wednesday, April 11, 2012

Kahwin vs Couple










 Sambungan :





 






Funny and full of messages :)

Wednesday, April 4, 2012

Pertunangan ;)

Soalan saya pada Ustazah Fatimah Syarha.


Assalamualaikum ustazah, saya nak tanya pasal pertunangan. Kalau tak keberatan, ustazah boleh tak kongsi pertunangan ustazah macam mana?


Saya nak tahu, macam mana sebenarnya konsep pertunangan ni. Macam mana pulak cara yang dianjurkan oleh islam?


Perlu ke ajak sedara mara, ramai-ramai? Lepas tu buat macam kenduri bagi orang makan? Saya mengerti yang memberi makan tu elok, besar pahala, tapi dalam konteks tunang ni, bukankah ia hanya satu urusan antara keluarga si gadis dgn tunang nya tu. Hmm, mcm mane ye? Sedara mara ramai2 tu, perlu ke ajak? Atau tunang ni kena senyap2 je, sebab ti antara kita dan dia.? 


Perlu ke dihebah2kan pertunangan kita tu?


Macam mana yang siap berpelamin tu ustazah?


Saya tak tahu, macam mana sebenarnya kalau dalam islam ni, nak bertunang... Pasal majlis, apa semua tu.. Perlu ke perempuan berhias? Atau pakai baju biasa je? Mmg perlu buat kenduri ye kalau tunang ni?













Dan jawapannya :




Waalaikumussalam wbt. Ustazah ada kongsikannya dalam novel terbaru CINTA HIGH CLASS, insyallah keluar bulan ni.

Tiada dosa mengajak saudara-mara ke majlis yang membahagiakan kita. dari sudut akhlak, ia suatu sikap meraikan mereka, mereka sudah tentu gembira.

isu nak buat kenduri, terpulang pada tuan rumah. ia cuma adat, bukan syariat. jika niat sedekah dapat pahala.

di trg adat ni memang biasa. tiada yang bercanggah syariat. biasanya bila dah ajak saudara mara tu, mestilah ada makan2 sikit, kalau tak laparlah mereka.

tentang menghebahkan pertunangan, ulama mengatakan dalam buku-buku fiqh, eloklah dirahsiakan pertunangan dan diiklankan pernikahan. 'Cadangan' ini bagi menjaga maruah wanita andai pertunangn tu tak jadi. tiada hukum wajib untuk merahsiakannya.

Dlm konteks tertentu, pertunangn itu perlu didedahkn bagi mengelakkn berlakunya pinangan atas pinangan.

yang berpelamin tu cuma adat bukan syariat.harus baginya menghias rumahnya dengan apa-apa unsur yang cantik, asalkan tidak mengikut jejak langkah syaitan dengan membazir.

jika tiada unsur pembaziran, misalnya cuma bentangkn kain yang cantik, warisan daripada adik beradik yang dah nikah, apa salahnya. 

larangan tabarruj bermaksud larangan membuka aurat. perempuan nak pakai baju apapun, selagi tutup aurat dan sopan apa salahnya. islam x mengongkong kreativiti.boleh rujuk buku2 al-qaradhawi.

Boleh Tekan Sini Juga! ;)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Are You Muslim?